Tsunami Jepang



sajak Yully Riswati

1/
Puing terserak
Nurani berteriak
Ego pun luluh lantak

2/
Satu nasihat
Agar kita mengingat
DIA terhebat

3/
Tsunami Jepang
Gelombang cinta Tuhan
Kepada insan











(telah ditampilkan dalam Bedah Puisi WR edisi 12 Oktober 2011)

Resiliensi


sajak Hylla Shane Gerhana

di hari lain kemarau akan menyatakan
bukan aku
cuma musim yang kadang singgah
di antara luang dua pertemuan
di kesempatan yang kausebut waktu kering kolam
sedangkan bencana yang kerap mengantui
adalah ledakan keinginan yang tak tercerap akalmu
yang seindah sayap kupu-kupu

ketika kalut datang
kadang jadi api
seperti lelucon yang menertawai nafasmu
kadang jadi air
seperti doa bagi yang sudah mati

di hari lain hujan akan bertanya
di bumi mana aku akan lennyap
di tepi hutan yan gmenghitam
dan asap kelabu

aku tak pernah lagi singgah
mencium akarmu
mendatangi leluhurmu
sesuatu yang bukan waktu memisahkan perjumpaan kita
dengan masa kecil
dan masa depan anak-anak kita
sesuatu yang bukan laut bersama tubuhku
seperti luka

di hari lain hutan akan bertanya
sesungguhnya akulah wahyu
yang dipencarkan dan terserak dalam ingatanmu
disangkal dan terabaikan
di setiap gerak harapanmu
pada musim kemarau dan hujan
adalah lanskap airmata
yang mengeras
menjadi sekuntum karma

Hong Kong, 24 Januari 2011

*resiliensi : kemampuan untuk melanjutkan hidup setelah ditimpa kemalangan atau setelah mengalami tekanan yang berat












(telah ditampilkan dalam Bedah Puisi WR edisi 05 Oktober 2011)

Tentang sang Camar


sajak Muhammad Asqalani eNesTe

sang camar yang keluar dari semburat mega tanpa warna
halilintar membahana maha di jiwanya
demi amuk semesta
bentangan laut membeku
kapalkapal pecah membatu
ikanikan mengapung kaku
kedua sayap camar patah, hilang ditelan waktu
dalam diam tiada yang tahu, tak juga camar tahu

bingkaihati20march2000n10










(telah ditampilkan dalam Bedah Puisi WR edisi 28 September 2011)

Pertiwi, Puisi Ini Untukmu


sajak Moh. Ghufron Cholid

Waktu belum berganti baju
Namun kita tak henti
Meneguk airmata sendiri

Hari-hari bagai teriris belati
Namun kita semakin mengerti
Hidup tak bisa sendiri

*) diambil dari Antologi Negeri Cincin Api (Lesbumi, 2011)













(telah ditampilkan dalam Bedah Puisi WR edisi Perdana, 21 September 2011)

Angin

sajak Adi Saputra

( juara Lomba Flash Poetry WR)
Aku hanya angin
Yang coba menemani kicaumu di ranting pesona
Memungut tiap kisah yang jatuh, mengabarkannya pada sepasang telinga yang ranum bagai salak sidempuan yang muda

Aku hanya angin
Yang coba mendingin-dinginkan egomu di panas angkara
Memadami tiap titik api yang muncul, membasuh lidahmu dengan ciuman ternyaman di penghujung tahun
Tapi,
Aku juga angin
Yang bisa mengoyakmu bagai layangan yang rapuh
Jika sempat kau memampatkanku, merasaiku terbakar sementara kau tertawa riang di saat terang

***
Pdg, 04/05/2011

Category: 0 comments

LOMBA CIPTA PUISI 2011 (PERPANJANGAN)

PALING LAMBAT: 15 Oktober 2011

100 Puisi Pilihan akan DIBUKUKAN ... !!! 


TEMA LOMBA: 

"EKSPRESIKAN JATI DIRIMU DENGAN PUISI"


TOPIK
  • Napas Puisi dalam Nadiku
  • Bangga sebagai Putra Indonesia
  • Berkarya untuk Negeri
  • Gelorah Generasi Pendobrak
  • Hijau Alamku, Biruku Lautku, Jaya Indonesiaku
  • Elok Budaya Bangsaku

SYARAT PENULISAN:
  • Jumlah halaman maksimal 3 lembar, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman font 12, ukuran kertas A4.
  • Setiap peserta boleh mengirim puisi maksimal 3 judul.
  • Margin (garis): atas, bawah, samping kiri dan kanan (semua 3 cm atau 1,08 inchi)
  • Mencantumkan nama penulis dan biodata narasi singkat (75 kata termasuk nomor anggota SMPO WR) pada bagian akhir naskah puisi.
  • Kirim karya ke alamat email: LombaPuisiWR@gmail.com 
  • Judul/Subjek email tulis: LCP 2011-Judul Puisi-Nama Penulis.
  • Deadline 15 Oktober 2011.
  • Melampirkan Nomor Anggota SMPO Writing Revolution (jika tidak ada maka dinyatakan GUGUR)
  
KRITERIA PENILAIAN
  • Orisinalitas tema
  • Kreativitas pengolahan kata
  • Kedalaman pesan
  • Kaidah penulisan puisi dan kelengkapan naskah

HADIAH
  • Juara I  :  Rp 750.000,- (ditambah buku antologi pemenang Lomba Cipta Puisi 2011 dan sertifikat penghargaan)
  • Juara II : Rp 500.000,- (ditambah buku antologi pemenang Lomba Cipta Puisi 2011 dan sertifikat penghargaan)
  • Juara III : Rp 250.000,- (ditambah buku antologi pemenang Lomba Cipta Puisi 2011 dan sertifikat penghargaan)

KETENTUAN KHUSUS:
  • WAJIB terdaftar sebagai peserta SEKOLAH MENULIS PUISI ONLINE  (SMPO)
  • INFO LENGKAP

KETENTUAN MENGIKAT
  1. Keputusan DEWAN JURI tidak bisa diganggu gugat.
  2. Panitia tidak MELAYANI SURAT-MENYURAT.
  3. DEWAN JURI berhak membatalkan keputusannya, jika di kemudian hari diketahui karya pemenang lomba melanggar karya cipta orang lain (plagiat).
  4. HAK CIPTA tetap ada pada penulis, sedangkan PANITIA memiliki HAK untuk MEMPUBLIKASIKANNYA.

NOMOR KONTAK:
0857-6320-8009 

Info Lengkap klik
Category: 0 comments

PUISI YANG LULUS PROYEK PCPV

1. 

Ayah

Maka lengkap sudah tentangmu
Tanpa harus kuungkap
Gurat di dahimu yang kian dalam
Urat-urat di lenganmu yang kian mengeras
Dan rambut putih perakmu


Ayah
Bersama nurani kau beri aku Alif Ba Ta
Dengan hati kau ingatkan sholat
Melalui fikir kau tuntun tentang hidup


Ayah
Ketika kujalani kerikil-kerikil ini
Kurasakan kisahmu
Melaluinya adalah lara di sudut hati
Merasakannya adalah pahit di ujung lidah
Menjalaninya adalah memar yang tak kunjung sembuh
Asal kau tahu, Ayah
Masih kusimpan kenangan bersamamu
Dan tentang pena itu
Biar kutuliskan indah namamu
Pada sekeping kertas kehidupanku kelak




Rumah Orkid, 29 Juni 2011
Category: 0 comments

Followers