Modern Poetry Edisi Pertama

(Edisi 11 Desember 2011)

Beberapa waktu lalu saya menyampaikan beberapa hal yang berkenaan dengan konsep saya mengenai puisi modern, seperti:
1.      Judul yang segar
2.      Metafora yang segar
3.      Filosofi/nilai yang disesuaikan dengan judul
4.      Dsb.
Dalam hal ini yang saya tawarkan adalah ide mengenai mengumpulkan berita-berita di media. Kemarin saya mengambil contoh satu peristiwa yang sedang hangat, yaitu PENGUNGSI. Maka saya sitir satu berita yang berbunyi seperti ini (dipertemuan kemarin sudah saya bagi, tetapi saya ubah sedikit) :
Seorang dari Srilanka ingin mengungsi dengan menumpang kapal pengungsi karena dirasa menggunakan pesaawat tidak aman. Celakanya, kapal berkapasitas 67 orang dimuati 97 orang dengan persediaan makan yang sedikit dan bahan bakar diesel. Seiring waktu, kapal itu pun kehabisan bahan bakar diesel. Lalu kapal itu tersapu ombak ke Selat Sunda. Namun nahasnya, sang tokoh tertangkap petugas imigran gelap di Selat Sunda. Petualangan 45 hari pun terhenti di sebuah penjara. (Buku NASIONAL GEOGRAFI).
Menurut saya, tema ini masih fresh dan setelah saya survei di beberapa media, seperti Horison, Suara Merdeka, Jawa Pos, Kompas, dan Tempo, belum ada yang memuat tema seperti itu. Berikut ini saya lampirkan puisi yang dibuat berdasarkan berita tersebut:

All ABout Poetry edisi 9 Desember 2011

Sejauh mana pengaruh tata bahasa dalam menulis sebuah puisi?
Jawab
Tata bahasa berperan sebagai penjelas makna puisi yang ditulis oleh penulis kepada pembaca.
Apa yang dimaksud dengan metafora? Dan sejauh mana pentingnya metafora dalam sebuah puisi?
Jawab
Metafora adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis. Misal: matahari dengan “raja siang”. Metafora berperan memperindah sekaligus memperkuat dan memperindah puisi yang kita tulis.
Bagaimana memilih kata dengan metafora yang pas dengan tema kita?
Jawab
Metafora yang pas memang tergantung tema. Metafora dapat dibangun dengan mengumpulkan puisi standar dengan bernilai sastra tinggi dan mengumpulkannya ke dalam “bank metafora”.
Seberapa penting tanda baca dalam puisi?
Jawab
Tanda baca berperan menentukan irama dan nada dalam sebuah puisi.
Dalam puisi baru, apakah jumlah baris dalam satu bait harus sama?
Jawab
Hadirnya puisi baru sebagai bentuk pendobrakan pada format puisi lama, sehingga puisi baru bebas dari aturan.

Estafet Poetry pada 8 Desember 2011


Irama Hati      

Semesta berdenyut
angin utara melantunkan tembang kasih
jajaran aksara mencipta rasa
menawan butiran bintang yang tertatih

Langit pun merintih lirih
menaungi kisah yang menggema di angkasa
tersusun dari aksara-aksara berwarna
melukis semesta laksana aurora

Sisa gerimis meniti malam
aku pun tersedai menatap langit tanpa bintang
ciptakan gelisah dan kesedihan
teringat akan kenangan masa silam

Estafet Poetry Edisi 1 Desember 2011

Jalan Kehidupan 

Di setiap titik yang kulalui 
aku mengeja setiap bait kehidupan
merentasi batas cakrawala rasa 
mencari arti yang sempat tercecer 

ada waktu yang berlarian 
kupungut detik demi detik di perjalanan 
meski siang belum menjelang 
kudapat terang sebelum kelam keburu datang 

pada langit yang gulita 
pada angin yang berdesir 
pada dedaunan yang gemerisik 
aku titipkan sekeping mimpi 
berharap ada bejana hatimu 

Puisi K.H. Mustofa Bisri

"Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu. Tidakkah kaulihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata, dan mereka suka mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan kecuali mereka yang beriman, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika dizalimi."

(Terjemahan QS. Asy-syu'araa, 224 - 227)


Category: 0 comments

Mengeja Rasa


sajak Nurlaili Sembiring

Ketika rindu sapa lembut nan jenaka
Kubingkai rautmu pada kelopak mawarku
Hingga berbinar indah di kalbu
Menjelma permata di wajahku yang jelaga

Akulah sang kembara di malam nan sunyi
Berteman dingin dalam balutan sepi
Adakah kaumengeja isi hatiku?
Mendebur kelamku dengan sapa hangatmu

Temani malamku dengan sebait puisi nan syahdu
Dimana kausemat dari lubuk hatimu
Seperti malam-malam terdahulu
Kauhiasi hati ini dengan syahdunya candamu

Kini, semua terasa berbeda
Rindu sapamu tak jua terpenuhi
Hai
, bangunkan aku dari lenaku atasmu
Agar aku luruh pada jernih muara kasih abadi

Binjai, 23 November 2011













(telah ditampikan dalam Bedah Puisi WR edisi 30 November 2011)

Puisi Soe Hok Gie

Ini adalah puisi terakhir yang sempat ditulis oleh Soe Hok Gie, yang dalam film ‘GIE’ diceritakan bahwa puisi ini dia tulis untuk kekasihnya sebelum dia pergi mendaki ke puncak Gunung Semeru. Bahkan puisi ini pun belum sempat diberikan judulnya oleh Soe Hok Gie. Kisah Soe Hok Gie diangkat ke layar lebar berdasarkan sebuah buku harian yang diterbitkan pada tahun 1983 yang berisi catatan-catatan harian dari Soe Hok Gie.
Berikut ini adalah puisi Soe Hok Gie tersebut.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari, sini sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegakklah ke langit atau awan mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

Soe Hok Gie meninggal di Puncak Gunung Semeru pada bulan Desember 1969. Dia menjadi ikon perjuangan yang menginspirasi mahasiswa untuk ambil bagian sebagai alat pengendali terhadap pemerintah.
Category: 0 comments

Followers