Showing posts with label Bedah Puisi WR. Show all posts
Showing posts with label Bedah Puisi WR. Show all posts

Bedah Puisi WR Edisi 28 Maret 2012

PUJAAN HATI
sajak Ida Shafiyyah Afraa

Tatapan kosong seorang insan
Yang rindu akan sang pujaan
Menunggu di dermaga
Dengan perasaan bimbang melanda

Desir angin memecahkan gelombang
Mentaripun mulai bercahaya dikejauhan
Pandangan hampa.
Mata mulai berkaca-kaca.
Pandangannnya mengawasi arah dermaga

Detik-detik penantian
Tak satupun kapal berlabuh
Membuat hati kian tersentuh 
Dengan nyanyian sang biduan

Hari pun mulai senja
Burung-burung kembali ke asalnya
Bimbangnya hati mulai terasa
Kegundahan semakin menyiksa
Pilu mendengar kabar dari seberang sana

Hati menangis tak bisa bersuara
Meratapi nasib tiada berguna
Tak terasa diapun rubuh tak berdaya
Dunia kelam seketika

Berhari-hari tak sadarkan diri
Dalam mimpi bertemu sang pujaan
Siuman menghinggapinya
melihat sekelilingnya penuh dengan hiasan

Alhamdulillah
Syukur terpanjatkan
Rasa sedih berhias kebahagiaan
Ketika sang pujaan muncul dibalik kerumunan  
Membawa sebuah buku kado pernikahan

Keluarga menangis bahagia
Ketika melihat mereka kembali bersama
Merajut mimpi yang lama terabaikan
Waktu terpisah dengan samudrah harapan

Bedah Puisi Mbeling Edisi 21 Maret 2012


RELIGI
Sajak Hardoyo Rajiyowiryono

pernah kuangankan
tuhan bersujud
bagai manusia
lalu membuang airseni dari
langit dan aku
menganga di bawahnya

###

DOA PAGI
Sajak Cunong Nunuk Suraya

Tuhan yang baik hati
berilah aku malam ini
seorang perempuan cantik
yang liar bagai kuda binal
yang tegar dan segar
yang lebih perwan dari fajar dinihari
yang lebih gagah dari Bima
yang mencintai dirinya sendiri

Bedah Puisi Edisi 14 Maret 2012

LUKA 1998

sajak Rizki Mula Saputra

Sebaris luka 1998,
Seharusnya tidak bercucur darah, apalagi nanah,
Karena luka itu goresan sejarah,
yang terukir di ubun-ubun,
Supaya bisa menengok ke belakang,
Ada jalur bekas luka yang lebih panjang,
Luka yang berisi darah merah perjuangan,
dan darah hitam pahit penjajahan,
Sehingga semakin dalam dan terendapkanlah kemerdekaan,
Maka sudah sepantasnya luka 1998 itu lekas sembuh,
Karena dia hanya sebaris luka kecil,
Luka yang akan sehat bersama zaman,
Dengan angin sejuk kemanusiaan dan keadilan,
Serta sebotol obat perundang-undangan.

Gundah Rasa Cinta


GUNDAH
sajak Deddy Firtana Iman


Renungan warna
Harumnya bunga mawar
Semakin menyentuh melekat senyuman kesederhanaanmu

Dan meresapi setiap waktu
Menjadikannya putih bercahaya
Dalam kilauan rambutmu ada senyuman tak tertahankan

Relung kegundahanmu
Mengimbangi lorong-lorong cahaya
Menyempurnakan letak isi hatimu untuk yang terkasih

Bersama waktu dan impian
Aku ada di antara segalanya
Untukmu seorang...

###

Tentang Hujan dan Sebuah Kata


TENTANG HUJAN
sajak Dewi Syafrina

Hujan tak kan jera
Malam ini ia semakin mendera
Gelegar memecah langit
Gelagatnya memutus sunyi , menggigit

Hujan tak kan mendengar
Rintih hati yang berbisik
Gelisah mengait rasa yang sangar
Menggelitar hingga tak berkutik

Hujan tak kan henti
Menyikapi hidup tak berarti
Menyusuri zaman yang bertepi
Menggeram menatap bumi

Hujan hanya bisa jatuh
Menggeragap saat kilat menyentuh
Tumpah, membasahi tanah
Membiarkan diri ini basah

###

Belajar Membaca dan Menyingkat Kata

Tidak seperti acara bedah puisi biasanya, ini adalah edisi perdana bedah puisi bertema 'mbeling' dan 'mantra'. Dalam edisi kali ini, acara dibagi menjadi dua bagian. Sesi pertama adalah apresiasi puisi mbeling dan mantra, lalu dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu peserta diskusi mencoba membuat pula puisi mbeling dan mantra.

Ini merupakan program bulanan yang semoga saja bisa berlanjut untuk edisi selanjutnya. Dan pada edisi kali ini, ditampilkan dua puisi dari empunya puisi mbeling dan mantra.
***


MENYINGKAT KATA
Remy Sylado

karena kita orang Indonesia
suka menyingkat kata wr. wb.
maka rahmat dan berkah ilahi pun
menjadi singkat dan tidak utuh lagi buat kita

###

Mencari Ayah di Selambai Dingin


MENCARI AYAH
          : My Aby Thamrin in St
sajak Muhammad Atsqalani EnEsTe
 
kucari ayah ke palung kenangan
ke hasrat perjumpaan
ke liang kerinduan
semakin kukenang
semakin menggenang kepedihan
sindu menggebu
tajam menikam
ke mana mesti kucari dirimu, ayah?
jika kau terbang bersama malaikat hilang
tiada tanda tergambar pada sebuah bayang
meski kedua wajah kita tak pernah bersitatap
mesti kumuseumkan harap pada sebait ratap
“ya Allah, pertemukan kami di istana akhirat,
dalam pelukan hangan bersidekap nikmat.”




Permata yang Berdamai dengan Sepi


PERMATA DALAM RENUNGAN
sajak Greevena Dunham
 
sembari tangan meraba
hati mendamba
mata mulai terasa iba
seolah jiwa ini layaknya riba
namun penyesalan akan rindu ini seperti rimba
dan ikhlas pun ikut tertimba

berdiri...berkaca lensalensa dosa
mencoba untuk lirih namun tak bisa
ini terasa beda...bukan biasa
karena KAU bukan bisa
bisa yang biasa Kau cipta
hingga lalunya hari ini

rembang rimbun angin berkocak
layaknya lautan kolak
manis, namun "basi" berkelakkelak
itulah yang mereka katakan di malam puncak
ketika nafas ini mencoba untuk mendesak

Pesan Itu tentang Siapa Aku

Pesan itu Tentang Siapa Aku
                                                    _ketika engkau melihatku setiap detik putaran waktu

1. 
Pesan itu telah sampai sebelum magrib tadi mengumandang di selendang petang
Ketika pucuk-pucuk akasia yang tumbuh di depan kamarku bermandi hujan sesiang tadi,
Tak mengusik tatapku yang turun menyapa letak rimah sajak-sajak yang gusar
Dan aku menunduk memunguti pikiran yang tumpah di selasar tepian kursiku yang bergoyang karena reot,
Masih ku selidik tiap bait yang menyasar di tumpukan rumit neuron jaringan pikirku
Akan apa penciptaan semesta, bila aku tiada, begitu engkau selalu bertanya tentang aku
Helaan ini tak mengutuk akan siapa yang bertanya, bahkan tak akan menghakim nyawa yang tanggung terbuang dari nafas yang terhembus
Tersebab setiap tanya butuh jawab yang nyata.

2.
Pesan itu masih ada ketika aku membalik rahasia kehidupan akan esok atau lusa
Tak tersentuh tatapanku selama puluhan purnama, ketika itu terakhir engkau membangunkanku dari koma akan kata-kata,
“Untuk apa engkau ada bila semesta terus merasa ditiadakan dalam riwayatmu”
Aku melihat matamu mengalir ke muara paling jauh di dasar pertanyaan itu
Bahkan saat mulutku kelu menterjemahkan silsilah waktu pada nadiku yang terus berdetak
_tak bisa ku hentikan_ putarannya
“Engkau kemanakan tempat dudukku?”
Di situ aku sering membaca setiap pesanmu, berteman kumandang azan dan secangkir kopi hangat seduhan tanganmu
Apa engkau telah menemukan siapa aku, sebelum sadarku dari ketiadaan hadirku?

3. 
Adakalanya aku terlupa pada rona senja kemarin yang engkau jelaskan dengan paruh camar
Bahkan aku lupa pernah melihatmu memotong kuku kakiku dengan wajah kesal dan ocehan khas murai batu sambil terus menjepit tiap lapisan selaput tanduk yang terlihat sumbang dan hitam
Yang ketika itu bagiku kata-katamu seperti puisi cinta dalam kisah roman “Romeo dan Juliet”
Masih, aku lupa ketika engkau memintaku untuk menjemputmu di stasiun kereta,
atau aku lupa membawa “abu-abu” yang engkau pesan bila pulang kerja lebih awal
Selalu lupa untuk meletakkan kaos kaki ke dalam sepatu, dan selalu engkau yang membereskannya
Adakalanya aku begitu lupa akan siapa aku di matamu

Present from The Two

Jangan Sembunyikan Kata dari Mata Kita

(Menyatukan dua kepala kepada kata)

 sajak AD Rusmianto
  

Sepertinya ada yang mulai menuangkan kerinduannya pada rongga jiwa, seperti hujan membasahi tanah tandus di hatimu. Kekasih, adalah engkau yang merajai tiap detik berlalu dengan kecemasan, menyulingnya menjadi ribuan kata pada altar jingga. Dan aku ingin mereguknya seperti cawan usang dimana engkau tuangkan rindu di atasnya. Semoga aku dapat menenggak mabuk. Mabuk kata.

Masih saja aku tertatih dalam setapak berduri, menyusuri bebatuan menuju padang tak bertepi. Hirup saja sampai aku dirasuki hingga mencambuk setiap relung lelah. Maka hanya namamu yang kutemukan dalam jerit bisu. Terduduk. Dan seribu gumam pada dzikirku adalah tentang kau yang mabuk di persimpangan.  Berbisiklah, sayang! Biarkan menyusupi jalanan dimana riuhnya membuka mataku. Menjeritlah sambil mengulur. Masuklah dalam rimbaku, melukislah walau absurd. Dan aku suka ketika kau mengaduh dalam tabuhan puisi. Dan biarkan kubangun keabsurdan dalam asaku mencumbui dunia kata. Seperti ingin merdeka dari sakit hati. Meledaklah! Melekatlah! Menjadi kata, setubuhi bahasa untuk kulahirkan puisi dan prosa dari rahimnya.


Tatapmu adalah Simfoni


ISAKMU ADALAH SIMFONI
sajak Fath WS

Tak terhitung langkah kuayunkan,
Terpanggang matahari,
terantuk berjuta kerikil tajam
terguyur hujan,
menggigil terjamah badai,
Keringat dan darah ini tuntas terperas,
Raga pedih terlilit ilalang, namun
kaki ini tak pernah lelah,
mata ini tak pernah redup,
Kalbu ini tak pernah diam,
mencari dan mencari jiwa tersesat
dalam kelenggangan.

Isakmu bagai simfoni
Melekat rekat dalam detak nadiku
Tak sedetik pun dawai terburai
Tak sekejap pun puja terkatub
Entah masa kan tiba
Entah asa kan menjelma
Tak satu nyawa pun mampu mengeja
(semua merapat, meratap dan mengharap).

Ceper-Maguwo, 20 - 24 Desember 2011

###

PANDANGAN MATAMU
sajak Nita Sweet

Matamu menatapku tajam
aku tak mampu berpikir dalam kegelapan
yang aku tahu hanya ingin bersamamu
melewati malam panjang
tatapanmu membuat jantungku berdebar
Aku tak mampu menghirup oksigen dengan benar
karena pandanganmu menghujam
dalam gelap malam
hujan tanpa awan cerah
matamu menjadi sinarannya
dan aku mampu bernaung dalam cinta
yang takkan kulupa selamanya

Hanya matamu yang meluluhkanku
melemahkan sistem syarafku
dan menghujam jantungku
membuatku tak mampu berpaling darimu

Kaulah lelaki masa depanku
aku inginkamu
menuntunku dalam duniamu
dan membuat istana cinta bersamamu










(telah ditampilkan dalam Bedah Puisi edisi 18 Januari 2012)

Dia Kembali bersama Peluh Doa

DIA KEMBALI
sajak Dewi Syafrina

Dia Pulang
Inspirasiku datang
Setelah lama menghilang
Semuanya sejalan

Kembali kugoreskan tinta di atas kertas
Menggali memoriku yang terbatas
Menyusuri kisah tak terbalas
Melompati tiga ruang waktu, bebas

Sekali saja, sebut namanya
Otakku kan bekerja ganda
Mengingat dan menoreskan tinta
Tentang kisah yang sempat terlupa

Dia pulang
Pikiranku tak terhalang
Terima kasih jiwa yang tenang
Selamat datang

###

PELUH DOA
sajak Rizki Mula Saputra
 
Pagi berpeluh basah
Senja merah berlinang darah
Hari ini dan esok
Secercah nafas pemupus lara

Hitam kelam, putih terang
Pembubuhan  telaga doa
Tambah sujud, tambah masa
Harap hidup sulit diterka

(Keduanya telah ditampilkan dalam Bedah Puisi WR Edisi 11 Januari 2012)
 

Kau dan Harga Sebuah Cinta


KAU

sajak Sakura Hinata

Kau teman tanpa kata
saat aku terluka
Kau hadir dalam diam
saat aku merana
Kau sahabat
ketika aku mematung dalam duka

Kau adalah pendengar yang sabar
Pemerhati yang handal
Penasihat yang bijak
Pemberi motivasi terbaik
Pemegang rahasia paling kokoh
Penutup aib paling rapat
Tempat paling amanah

Tak ada tatapan sinis
Tak ada pengucilan
Tak ada dakwaan

Sosokmu hadir ketika
aku percaya semua fana
Kau adalah teman paling aman
untuk segala masalah
Kau adalah tempat paling nyaman
untuk berbagi
Kau adalah sebaik-baik penerimaan
Sahabat yang tak pernah menyakiti
dan mengkhianati

Buku,
telah mengisi hariku
memenuhi kekosonganku
membasuh lukaku
memberi warna hidupku
Buku harianku, teman setiaku

###


Hari Ini, Dan Ah.


HARI INI

sajak Reza Andta
_untuk manusia dan berhalanya

Hari ini Tuhan buat manusia :
…….
Dipintalkan sekepal organ
Dirukukkan seoonggok otak
Ditayamumkan selaksa indera
Dilesutkan sederet kodrat
Diasahkan sepisau nafsu
Ditiupkan seputih roh
……..
Satu
Dua
Tiga
Tak terhingga
Selesai
………
Hari ini manusia
berganti buat Tuhan
yang dikalungkan pada
sebongkah bejana fatamorgana

###

Spesial Hari Ibu


Kasih Ibu

sajak Ayicha Sheila

Aku membaca cinta di mata sayumu
Sederet belai mesra selalu tercurah padaku
Meski kutahu kau tak lagi sama seperti dulu
Karena usia senja kini tengah menyapamu

Ibu... oh, Ibu...
Kasihmu begitu tulus padaku
Sayangmu menggetarkan nadi dan aortaku
Dan cintamu hangatkan gelisah di dingin malamku

Ibu... oh, Ibu...
Kasihku takkan mampu mengimbangi kasihmu
Takkan pula mampu membalas kebaikanmu
Dimana dirimu selalu sabar dan tak kenal lelah: membimbing proses kedewasaanku

Surabaya, 21 Desember 2011

 ###

Bulan Tidur di Wajahmu

sajak Nurshanadi

Hingga hari ini masih tak bisa kusaksikan rembulan di malam seperti biasanya kala jingga menjelang dan perlahan langit kelam kian suram.

Ada sebagian cahaya yang kemudian menjelma pudar dan kerlip gemintang menjadi pelit untuk disaksikan, disangsikan.

Kau, selendang malam, seperti kabut-kabut usang yang mendendangkan tembang terkasih dari ciptaan alam, menemani pucat-pucat yang berpijar, menghalau sunyi, menghalau sepi.

Ada horizon yang membias wajahmu di sudut cakrawala, bercanda dengan venus yang malu-malu mengiringi cahayanya, putih kuning merah biru, berlarian, beriringan.

Lalu, bulan tidur di wajahmu dengan kedamaian yang sendu kunantikan dari seraut pesona di ujung mata jalang nan nyalang menantang.

Dan tetap saja kubiarkan bulan itu lelap di wajahmu agar rembulanku bisa menggantikan tiap-tiap malam yang kerap membuatku ingin pulang.

Pdg, 30/11/11

(Keduanya telah ditampikan dalam Bedah Puisi WR edisi 21 Desember 2011)

Followers