Estafet Poetry Edisi 1 Desember 2011

Jalan Kehidupan 

Di setiap titik yang kulalui 
aku mengeja setiap bait kehidupan
merentasi batas cakrawala rasa 
mencari arti yang sempat tercecer 

ada waktu yang berlarian 
kupungut detik demi detik di perjalanan 
meski siang belum menjelang 
kudapat terang sebelum kelam keburu datang 

pada langit yang gulita 
pada angin yang berdesir 
pada dedaunan yang gemerisik 
aku titipkan sekeping mimpi 
berharap ada bejana hatimu 

Puisi K.H. Mustofa Bisri

"Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu. Tidakkah kaulihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata, dan mereka suka mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan kecuali mereka yang beriman, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika dizalimi."

(Terjemahan QS. Asy-syu'araa, 224 - 227)


Category: 0 comments

Mengeja Rasa


sajak Nurlaili Sembiring

Ketika rindu sapa lembut nan jenaka
Kubingkai rautmu pada kelopak mawarku
Hingga berbinar indah di kalbu
Menjelma permata di wajahku yang jelaga

Akulah sang kembara di malam nan sunyi
Berteman dingin dalam balutan sepi
Adakah kaumengeja isi hatiku?
Mendebur kelamku dengan sapa hangatmu

Temani malamku dengan sebait puisi nan syahdu
Dimana kausemat dari lubuk hatimu
Seperti malam-malam terdahulu
Kauhiasi hati ini dengan syahdunya candamu

Kini, semua terasa berbeda
Rindu sapamu tak jua terpenuhi
Hai
, bangunkan aku dari lenaku atasmu
Agar aku luruh pada jernih muara kasih abadi

Binjai, 23 November 2011













(telah ditampikan dalam Bedah Puisi WR edisi 30 November 2011)

Puisi Soe Hok Gie

Ini adalah puisi terakhir yang sempat ditulis oleh Soe Hok Gie, yang dalam film ‘GIE’ diceritakan bahwa puisi ini dia tulis untuk kekasihnya sebelum dia pergi mendaki ke puncak Gunung Semeru. Bahkan puisi ini pun belum sempat diberikan judulnya oleh Soe Hok Gie. Kisah Soe Hok Gie diangkat ke layar lebar berdasarkan sebuah buku harian yang diterbitkan pada tahun 1983 yang berisi catatan-catatan harian dari Soe Hok Gie.
Berikut ini adalah puisi Soe Hok Gie tersebut.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari, sini sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegakklah ke langit atau awan mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

Soe Hok Gie meninggal di Puncak Gunung Semeru pada bulan Desember 1969. Dia menjadi ikon perjuangan yang menginspirasi mahasiswa untuk ambil bagian sebagai alat pengendali terhadap pemerintah.
Category: 0 comments

Rapor


sajak Adi Saputra

Ada yang tak bisa kumengerti
Dari seorang gadis kecil yang kehilangan udara di rongga dadanya

Hanya karena,
Warna merah dalam buku rapornya…
Tadi malam,
Dia menggantung jalan udara di langit-langit kamarnya.












Padang, 01/01/11

Category: 0 comments

Pada Kelopak Waktu


:untuk para guru

sajak Rurin Kurniati

Pada kelopak waktu
Perkenankan aku membagi cerita tentangmu
Pada detikdetik senja yang sendu
Izinkanku menyanyikan lirik sumbang lagumu

Pada kelopak waktu
Kuteteskan air mata beku
Tentangmu yang selalu bermandikan peluh
Terkuras tenagamu layaknya buruh

Pada kelopak waktu
Kukhayalkan dirimu yang dulu
Digugu dan ditiru
Namun tampak sekarang yang kauhadirkan hanya kelu

Pada kelopak waktu
Kusemai citacita menjadi dirimu
Berharap nasib baik berkunjung
Cukup pada masamu kau dikhianati oleh bangsamu
Cukup pada masamu kau dicemooh oleh anak didikmu
Cukup pada masamu kau terinjakinjak oleh gajimu

Dan demi kelopak waktu
Akan kukembalikan harga dirimu seperti dulu
Akan kubuat angin pendidikan yang teramat sejuk
Bagi siapa pun dan di mana pun
Sejuk yang ‘kan kau rasa sampai ke kalbu

Demi kelopak waktu
Ingat janjiku

Bima, 06/07/2011













(telah ditampilkan dalam Bedah Puisi WR edisi 23 November 2011)

Celoteh Siswa Sebuah Sekolah Pedalaman



sajak Irwan Sandza

/Celoteh tentang Kelas Setengah Spasi/
Kelasku setengah spasi. Tak pernah bertitik selalu berkoma. Berdinding lumut pilu.
Kelasku beratap angan hampa. Tak pernah berwujud. Menguap di bilik jendela tanpa kaca.
Kelasku beralas karpet bumi. Tempat bermukim bakteri. Yang menggerogoti pangkal ulu isi kepalaku.
Hingga aku tak pantas bermimpi.

/Celoteh tentang Guru Ber-Ibu Alam/
Guruku tidak lahir dari bangku pengetahuan. Berotak kumpulan rumus canggih dan kritis. Yang akan mengaduk silsilahku.
Guruku terlahir dari persilangan dua dimensi. Ibunya bernama alam. Ayahnya bernama hati nurani.
Guruku menopang ragaku. Menuntun tanganku mencakar awan. Namun sayang, guruku tak bisa terbang.
Hingga mimpiku sebatas lambaian tangan.

/Celoteh tentang Sekerat Mimpi Menjadi Guru/
Mimpiku menjadi guru pendonor ilmu. Akan aku transfusi setetes bara. Agar kelak akan lahir anak bangsa berkulit baja.
Mimpiku menjadi guru pemasak ilmu. Akan aku suguhkan sepiring angka. Agar kelak lahir pahlawan bersenjata intelektual.
Mimpiku menjadi guru penyulam ilmu. Akan aku untai sebait cerita. Tentang: “Sekolahku yang akan bermetamorfosis menjadi istana penjajah.”

Sumedang, Mei 2011










(telah ditampilkan dalam Bedah Puisi WR edisi 16 November 2011)

Followers